Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 November 2010

APAKAH VITAMIN E DAPAT MENCEGAH KANKER??











Saya pernah berbicara dengan salah seorang kenalan saya. Beliau didiagnosa suatu penyakit saraf; cavernous angioma; suatu kelainan pembuluh darah yang ditandai dengan perubahan struktur. Singkatnya teman saya itu diberi vitamin E disamping obat antikejang. Lalu saya berpikir mengapa vitamin E. Selanjutnya saya mulai teringaat kembali tentang artikel yang pernah dipublikasikan oleh majalah kedokteran CDK volume 36 no 2, Maret-April 2009. Pada salah satu artikelnya ada yang berjudul “Apakah Suplementasi Vitamin C dan E Dapat Mencegah Kanker?”

Kita langsung pada kesimpulannya saja. Dapat disimpulkan bahwa sebagai pencegahan kanker, suplemen vitamin antioksidan (vit. C dan E) tidak menunjukkan manfaat, sedangkan makan makanan sehat yang kaya vitamin seperti buah dan sayur terbukti mengurangi resiko timbulnya kanker. Dengan kata lain, manfaat buah dan sayur tidak dapat digantikan dengan suplemen vitamin.

Rabu, 10 Februari 2010

Mau Terhindar Kanker Paru? Makanlah Kedelai!



Berhenti merokok adalah keputusan bijak jika Anda ingin terhindar dari risiko mengidap kanker paru-paru. Akan tetapi, risiko mungkin dapat lebih ditekan lagi jika Anda juga doyan memakan kedelai.

Riset terbaru yang dimuat American Journal of Clinical Nutrition menemukan, pria yang tidak merokok dan rajin mengasup kedelai berisiko lebih rendah mengidap kanker paru-paru. Peneliti mencatat, senyawa dalam kedelai yang disebut isoflavon diduga memiliki peran penting sebagai zat antikanker. Isoflavon, yang telah dikenal berperan mirip estrogen, dapat melindungi tubuh dari hormon-hormon pemicu kanker, terutama kanker payudara dan prostat. Dari riset terungkap, jaringan paru-paru menunjukkan reaksi yang baik terhadap isoflavon.

Kesimpulan itu diperoleh setelah Dr Taichi Shimazu dari National Cancer Center di Tokyo, Jepang, dan rekannya mempelajari lebih dari 36.000 pria dan lebih dari 30.000 perempuan. Responden berusia 45 tahun sampai 74 tahun dan terbebas dari kanker pada awal studi.

Para peneliti itu memantau kualitas makanan, status merokok, sejarah medis, dan faktor gaya hidup mereka pada 1995 dan 1999. Lalu, perkembangan responden diikuti selama 11 tahun. Hasilnya, rata-rata kanker paru-paru di kalangan mereka kecil. Tercatat 481 pria—atau sebanyak satu dari 75 orang. Sementara pada wanita ada 178 yang didiagnosis kanker paru atau satu di antara 225 orang.

Rata-rata kanker paru naik pada 13.000 pria yang tak pernah merokok. Terdapat 22 kasus kanker paru-paru di kalangan pria yang mengonsumsi paling sedikit kedelai dan hanya 13 kasus kanker paru-paru di antara mereka yang mengonsumsi paling banyak kedelai. Shimazu mengatakan, konsumsi kedelai dari makanan kaum laki-laki sangat beragam, dari sebanyak 34 sampai sebanyak 162 gram per hari.

Setelah memperhitungkan sejumlah faktor, risiko kanker paru pada responden yang paling banyak mengonsumsi kedelai bisa berkurang hingga setengahnya dibandingkan kelompok yang paling sedikit mengonsumsinya. Di kalangan perempuan, kasus kanker paru tercatat lebih sedikit sehingga para peneliti tak menarik kesimpulan mengenai risiko yang mereka hadapi.

Para peneliti mencatat, bagi pria tampaknya bukan konsumsi kedelai yang membuat risiko kanker menjadi rendah. Pria yang mengonsumsi kedelai lebih mungkin terlibat kegiatan lain yang menekan risiko kanker atau barangkali lebih mungkin untuk mengonsumsi makanan lain yang sehat. Akan tetapi, faktor tersebut memang banyak memengaruhi.

Riset sejauh ini tak mendata penggunaan suplemen isoflavon juga tidak meneliti pajanan terhadap asap rokok. Itu berarti temuan ini harus dikonfirmasi di kalangan pendudukan Jepang dan yang lain, demikian kesimpulan para peneliti.

Dikutip dari Kompas.com

Selasa, 09 Februari 2010

"Softdrink" Sebabkan Kanker?


Peringatan untuk Anda para penyuka minuman soda. Studi terkini menyebutkan, orang yang minum dua kaleng atau lebih minuman softdrink yang mengandung gula berisiko terkena kanker pankreas. Meski kasus kanker ini jarang, kanker pankreas termasuk mematikan.

Meski sama-sama mengandung gula, ternyata risiko kanker tersebut tidak ditemukan pada penyuka minuman jus buah. Ketua peneliti, Mark Pereira dari University of Minnesota, Amerika Serikat, berpendapat, gula bisa menjadi biang keladi penyakit, tetapi penyuka softdrink mungkin memiliki gaya hidup tidak sehat.

“Tingginya kadar gula dalam minuman bersoda mungkin meningkatkan kadar insulin dalam tubuh yang kami yakini menyebabkan pertumbuhan sel-sel kanker, “ kata Pereira. Insulin, yang membanatu tubuh mengatur glukosa dihasilkan di pankreas.

Sebanyak 60.000 pria dan wanita Singapura menjadi responden dalam penelitian yang dilakukan selama 14 tahun itu. Selama periode tersebut, 140 responden menderita kanker pankreas. Mereka yang minum dua kaleng atau lebih softdrink setiap minggu memiliki resiko 87 % lebih tinggi menderita kanker pancreas.

Meski dilakukan di negara kecil, Pereira mengatakan, hasil studi ini bisa diaplikasikan di negara lain. "Singapura adalah negara kaya dengan sistem kesehatan yang baik. Kegemaran penduduknya adalah makan dan belanja sehingga hasil riset ini juga bisa dipakai oleh penduduk di Negara Barat,” katanya.

Susan Mayne dari Yale Cancer Center dari Yale University, AS, memberikan pandangan berbeda pada hasil penelitian ini. “Kesimpulan dibuat pada contoh kasus yang kecil dan tidak jelas apakah ada hubungan sebab akibat.

Mayne menyatakan, kanker disebabkan oleh multifaktor, tidak bisa disebutkan satu faktor saja. "Tingginya konsumsi softdrink di Singapura juga diikuti dengan kebiasaan buruk lain, seperti merokok dan makan daging," ujarnya. Beberapa literatur menyatakan, kanker pankreas berkaitan dengan konsumsi daging merah.

Sumber : Kompas.com

Kamis, 04 Februari 2010

Alpukat, Sahabat Baik Si Jantung


Alpukat, Sahabat Baik Si Jantung

Alpukat (Persea Americana Mill) adalah buah yang kaya lemak. Di dalam alpukat terkandung lemak yang sehat, seperti asam lemak tak jenuh tunggal oleat yang bersifat antioksidan kuat.

Lemak ini membantu menurunkan kadar LDL (kolesterol jahat) dan menaikkan HDL (kolesterol baik) yang tentunya sangat diperlukan untuk kesehatan jantung. Selain itu, kandungan betakaroten, klorofil, vitamin E dan vitamin B kompleks juga ikut menjadi pelindung yang baik bagi kesehatan. Dengan begitu, buah yang berasal dari daerah Amerika Tengah dan Meksiko ini mampu menekan terjadinya resiko stroke dan serangan jantung.

Mengonsumsi alpukat dalam jumlah banyak terbukti memberikan dampak positif dalam kolesterol dalam darah. Dalam sebuah penelitian, mereka yang menderita hiperkolesterolemia dan melakukan diet ketat alpukat menunjukkan kadar kolesterol totalnya menurun 17 persen Kolesterol jahat maupun trigliserida juga menutun ke angka 22 persen, dan terjadi peningkatan kadar kolesterol baik (HDL) 11 persen. Selain tinggi lemak, alpukat juga kaya folat, potassium, vitamin B, E, K, dan serat.

Rabu, 03 Februari 2010

Efek Konsumsi Teh Bagi Kessehatan


EFEK KONSUMSI TEH BAGI KESEHATAN



Efek teh yang bermanfaat pada kesehatan telah didemonstrasikan pada studi eksperimental menggunakan hewan dan beberapa studi manusia. Dua penyakit yang paling intensif diinvestigasi adalah penyakit jantung dan kanker. Walaupun mekanisme aktivitas protektif dari teh terhadap penyakit tersebut telah diajukan, ada inkonsistensi dalam hubungan antara konsumsi teh dan risiko penyakit tersebut pada manusia.


Banyak studi epidemiologik telah menginvestigasi efek konsumsi teh pada penyakit kardiovaskuler. Pada suatu studi jangka panjang di Belanda, konsumsi teh berhubungan dengan risiko kematian yang rendah akibat penyakit jantung koroner dan insidensi stroke yang rendah. Pada studi di Rotterdam, suatu hubungan terbaik konsumsi teh dengan keparahan aterosklerosis aortik telah diobservasi. Studi kesehatan di Boston menemukan bahwa subyek yang minum satu cangkir (200-250 ml) atau lebih teh hitam per hari memiliki kira-kira setengah risiko dari suatu serangan jantung dibanding dengan orang yang tidak minum the.

Satu mekanisme yang diajukan untuk efek protektif yang mungkin dari the terhadap penyakit kardiovaskuler adalah bahwa polifenol teh menghambat oksidari LDL, yang diketahui terlibat dalam perkembangan aterosklerosis. Studi telah mengindikasikan bahwa konsumsi teh hitam telah memproteksi LDL terhadap oksidasi ex vivo. Polifenol teh berakumulasi pada partikel LDL setelah 3 hari konsumsi teh hijau atau hitam, tetapi level mereka tidak cukup untuk memperkuat resistensi terhadap oksidasi LDL.

Aktivitas hipokolesterolemik dari teh dapat juga berkontribusi kepada proteksi terhadap penyakit jantung. Pada hewan yang diberi pakan tinggi lemak dan kolesterol, teh hijau, teh hitam, dan polifenol teh telah mencegah peningkatan lipida serum dan hati, telah menurunkan kolesterol total serum atau indeks aterogenik, dan telah meningkatkan ekskresi fekal dari lipida dan kolesterol total.
Bila hamster diberi pakan lemak tinggi, hamster yang diberi minum teh hijau atau plifenol teh hijau memiliki kolesterol total serum dan level triasilgliserol yang rendah tetapi ekskresi lemak fekal yang lebih tinggi daripada kelompok kontrol.

Namun, studi epidemiologik dan uji pada manusia telah gagal untuk menunjukkan suatu efek yang menurunkan kolesterol serum dari konsumsi teh hijau atau hitam. Dari 13 studi epidemiologik, hanya empat yang melaporkan hubungan terbalik. Suatu mekanisme potensial lain mungkin melalui efek teh pada berat dan lemak tubuh.

Observasi terbaru bahwa administrasi intragastrik teh hitam telah menghambat agregasi platelet dan telah mencegah thrombosis koronari eksperimental pada anjing dan bahwa konsumsi polifenol teh hijau telah menurunkan agregasi platelet yang terinduksi ADP yang memberikan suatu mekanisme yang mungkin untuk pencegahan penyakit kardiovaskuler. Namun, ekstrak teh hijau yang ekuivalen dengan 10 cangkir (2 liter) teh untuk 4 minggu tidak memiliki efek signifikan pada beberapa indikator yang berhubungan ke penyakit kardiovaskuler.

Teh hitam dan hijau telah menyebabkan peningkatan akut yang besar (30 menit setelah ingesti) pada tekanan darah daripada kafein sendiri. Namun, konsumsi teh reguler tidak mengubah tekanan darah.

Teh dan kanker

Teh telah dianggap sebagai suatu minuman pencegah kanker karena aktivitas seperti itu telah didemonstrasikan pada banyak model hewan. Model-model tersebut meliputi kanker kulit, paru, esofagus, lambung, hati, usus halus, pankreas, kolon, kantung kemih, prostat, dan kelenjar susu. Larutan teh biasanya diberikan kepada hewan sebagai sumber tunggal cairan minuman.

Studi ekstensif pada tumorigenesis yang diinduksi cahaya UV dan bahan kimia sebagaimana tumor paru yang terinduksi bahan kimia dan yang terjadi spontan pada mencit telah mengindikasikan bahwa teh memiliki aktivitas inhibitori yang luas terhadap tumorigenesis dan efektif bila diadministrasikan selama tahap insiasi, promosi atau progresi karsinogenesis. Konklusi ini juga mungkin diaplikasikan pada model lain.
Hasil yang bertentangan telah dilaporkan mengenai efek teh pada karsinogenesis kolon; penghambatan dan kurang hambatan keduanya telah dilaporkan. Penghambatan dari tumorigenesis kelenjar susu yang terinduksi secara kimiawi oleh teh telah diobservasi pada tikus yang diberi pakan berlemak tinggi. EGCG telah diperlihatkan menghambat pertumbuhan sel-sel kanker payudara dan prostat manusia.

Banyak mekanisme yang telah diajukan mengenai aksi inhibitori teh terhadap karsinogenesis. Mekanisme yang paling umum adalah aktivitas antioksidatif, tetapi banyak mekanisme yang lain juga penting. Efek antiproliferatif dari catechin teh telah didemonstrasikan pada model tumorigenesis paru dan kulit pada mencit. Hambatan tranformasi sel dan pertumbuhan sel oleh catechin dan theaflavin murni juga telah dilaporkan.

Aktivitas itu telah dihubungkan ke hambatan aktivitas activator protein 1 (AP-1). Karena aktivasi AP-1 yang sering pada banyak kanker manusia, aksi ini mungkin dapat diaplikasikan untuk pencegahan kanker manusia. Penghambatan enzim yang berhubungan dengan promosi tumor, seperti ornithine decarboxylase, protein kinase C, lipoksigenase dan sikloosigenase oleh teh telah diperlihatkan. Hubungan antara penurunan lemak tubuh oleh teh dan hambatan tumorigenesis kulit telah diobservasi.
Mencit yang minum teh hitam atau teh hijau memiliki tumor paru yang lebih sedikit dan berat yang kurang dibanding kontrol, walaupun mereka mengonsumsi jumlah makanan yang sama atau lebih. Berdasarkan aktivitas inhibitori yang bervariasi yang telah diobservasi pada model hewan yang berbeda dan kultur sel kanker yang berbeda, mungkin bahwa kandungan dan mekanisme teh yang multipel terlibat dalam hambatan karsinogenesis.


Efek teh pada nutrisi

Pada mencit kegemukan, konsumsi teh oolong selama 10 minggu telah mencegah kegemukan dan perlemakan. Absorpsi nutrien yang menurun dan pembakaran energi yang meningkat mungkin keduanya berkonstribusi pada efek tersebut. Ekstrak teh hijau telah menstimulasi thermogenesis jaringan adiposa pada tikus sampai suatu tingkat yang lebih besar daripada yang dapat dilakukan oleh kafein sendiri. Ingesti ekstrak teh hijau oleh laki-laki muda sehat dengan setiap makanan menghasilkan peningkatan yang signifikan pada pembakaran energi 24 jam. Studi ini telah mengindikasikan bahwa polifenol teh menghambat aktivitas catechol-O methyltransferase dan bereaksi sinergis dengan kafein untuk memperpanjang stimulasi simpatetik dari thermogenesis.

Apakah konsumsi teh mengganggu absorpsi protein pada manusia masih perlu diinvestigasi lebih lanjut. Karena afinitas ikatan yang kuat dari polifenol teh terhadap ion-ion logam, efek teh yang mungkin pada absorpsi nutrien tersebut merupakan hal yang penting.

Penurunan absorpsi besi karena minum teh telah dilaporkan. Kelihatannya efek tersebut terutama pada besi nonheme, dan bila teh dan besi dikonsumsi bersamaan. Absorpsi besi heme dari daging yang dimasak tidak dipengaruhi oleh konsumsi teh.

Di antara wanita umur 65-76 tahun, konsumsi teh berhubungan dengan pengukuran densitas mineral tulang yang lebih besar, yang konsisten dengan laporan bahwa teh bersifat protektif terhadap fraktura tulang pinggul. Data tersebut mengindikasikan bahwa komponen selain dari polifenol, seperti fitoestrogen atau fluorida, mungkin mempengaruhi densitas mineral tulang. Teh ditemukan menghambat aktivitas glukosiltransferase dari streptokokki oral dan perkembangan caries gigi pada tikus. Teh mengandung fluorida yang mungkin akan memperkuat enamel gigi dan meningkatkan kesehatan gigi.


Pada model mencit arthritik yang terinduksi kolagen, polifenol teh hijau secara signifikan mereduksi insidensi dan keparahan arthritis. Ekspresi mediator inflamatori yang meliputi siklooksigenase-2, interferon gamma, dan TNF-alpha lebih rendah pada sendi arthritic dari mencit yang diberi polifenol teh hijau. Katarak, yang berkembang sebagai akibat presipitasi protein pada lensa mata, mungkin direduksi oleh konsumsi teh yang meningkat.

REFERENSI
• Http://www.kompas.com/

Photobucket