Tampilkan postingan dengan label PENGOBATAN DASAR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PENGOBATAN DASAR. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Mei 2010

DEMAM TIFOID PADA ANAK


Defenisi

Demam Tifoid atau tifus abdominalis adalah suatu infeksi yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhii yang ditularkan melalui makanan yang tercemar oleh tinja dan urine penderita.

Penyebab

Demam tifoid disebabkan oleh bakteri gram negative- Salmonella enteric serovar Typhi. S. Paratyphi A, B dan C juga menyebabkan penyakit yang sama namun biasanya lebih ringan.



Patofisiologi

Penyakit ini biasanya ditularkan melalui makanan atau air yang terkontaminasi oleh organism ini. Pada percobaan, dosis infeksi / jumlah bakteri sekitar 105 - 109 dengan masa inkubasi berkisar antara 4-14 hari. Setelah tertelan, bakteri ini diperkirakan menginvasi tubuh melalui mukosa saluran cerna di terminal ileum. S.Typhi menembus barier mukosa intestinal setelah berikatan pada mikrofili melalui proses internalisasi. Setelah menembus mukosa, bakteri ini akan masuk ke system lymphoid mesenteric, dan selanjutnya masuk ke pembuluh darah melalui lympatik. Proses ini disebut bakteremia primer, dan biasanya asimptomatik, dan kultur darah seringkali negative pada tahap ini. Bakteri yang masuk ke pembuluh darah segera menyebar dan selanjutnya berkoloni di system retikuloendotel, dimana bakteri ini bereplikasi dalam makrofag. Setelah masa replikasi, bakteri ini akan dilepaskan kembali ke darah, menyebabkan bakteremia sekunder, dimana selalu bersamaan dengan munculnya gejala klinis dan pada tahap ini menandakan akhir dari periode inkubasi.

KLIK DISINI UNTUK MENDAPATKAN LINK DOWNLOAD GRATIS, PDF, DOC


Gambaran Klinis

Masa inkubasi biasanya 7-14 hari tapi juga tergantung dari jumlah bakteri/ dosis infeksi (berkisar 3-30 hari). Gambaran klinis bervariasi mulai dari sakit ringan dengan subfebris, malaise, dan sedikit batuk kering sampai gambaran berat seperti abdominal discomfort dan berbagai komplikasi.
Saat tidak dijumpainya tanda-tanda local, masa awal penyakit ini sulit dibedakan dengan demam berdarah atau malaria. Sifat demam naik secara bertahap, namun gambaran klasik demam bertangga (stepladder fever, demam lebih tinggi di sore hari) sudah jarang dijumpai. Demam tifoid biasanya disertai berbagai keluhan lainnya seperti sakit kepala, nyeri sendi, sakit tenggorokan, bibir kering dan pecah, lidah kotor tertutup oleh selaput putih, sembelit, penurunan nafsu makan dan nyeri perut. Pada anak mungkin dijumpai diare pada tahap awal yang diikuti dengan konstipasi. Pada sekitar 10% penderita dijumpai sekelompok bintik-bintik kecil berwarna merah muda di dada dan perut pada minggu kedua dan berlangsung selama 2-5 hari yang disebut Rosespot. Selain itu pada pemeriksaan fisik bias juga ditemui hepatomegali, splenomegali atau keduanya. Untungnya pada anak gejala klinis seperti bradikardi relative, manifestasi neurologi ataupun perdarahan saluran cerna sangat jarang.

Laboratorium

Pemeriksaan laboratorium meliputi kultur darah atau jaringan tubuh lainnya, feses dan urin. Kultur darah positif dapat terlihat pada 40-60% pasien pada perjalanan awal penyakit ini. Sedangkan kultur feses dan urin biasanya positif setelah 1 minggu.
Pemeriksaan laboratorium lainnya adalah darah rutin. Hasilnya kurang spesifik. Jumlah leukosit biasanya rendah sehubungan demam dan toksisitas, namun jumlahnya bervariasi bisa mencapai 20.000-25.000/mm3. Trombositopenia bisa dipakai sebagai marker beratnya infeksi dan DIC. Fungsi liver mungkin terganggu namun jarang.
Pemeriksaan lainnya adalah Widal test, dengan mengukur antibody terhadap antigen O dan H dari S.Typhi.

Diagnosis Banding

  1. Demam Tifoid

  2. Demam Berdarah

  3. Malaria

  4. Gastroentritis

  5. Leptospirosis

  6. Sepsis


Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Untuk memperkuat diagnosis, dilakukan biakan darah, tinja, air kemih atau jaringan tubuh lainnya guna menemukan bakteri penyebabnya.

Terapi

Umumnya, demam tifoid pada anak dapat dirawat dirumah dengan antibiotik oral dan pengawasan yang ketat terhadap tanda-tanda komplikasi atau kegagalan terapi. Pasien dengan keluhan yang menetap seperti keadaan umum yang lemah, muntah, diare berat, dan distensi abdomen mungkin membutuhkan perawatan di rumah sakit dan pemberian antibiotik parenteral.
Ada beberapa prinsip umum penanganan demam tifoid. Istirahat yang cukup, cairan, dan nutrisi yang baik. Makanan lunak dan gampang dicerna harus diberikan kecuali bila dijumpai distensi atau ileus. Antipiretik dapat diberikan sesuai keperluan. Peran antibiotik sangat penting untuk meminimalisir komplikasi. Peran antibiotic juga dipengaruhi resistensi antimikroba. Selayaknya dilakukan test sensitivitas terhadap mikroba sebagai arahan terapi. Diperkirakan bahwa terapi tradisional baik dengan kloramfenikol atau amoxicillin berhubungan dengan laju relaps sekitar 5-15%, sementara quinolon dan sefalosporin generasi ketiga berhubungan dengan tingkat kesembuhan yang lebih tinggi. Selama 2 dekade belakangan ini, resistensi obat terhadap S. Typhi (amoxicillin, trimethoprim-sulfamethoxazole, dan chloramphenicol) membuat pergeseran terapi dengan menggunakan fluoroquinolon dan sefalosporin generasi ketiga. Aminoglikosida dan sefalosporin generasi pertama dan kedua secara klinis tidak efektif. Sefalosporin generasi ketiga seperti ceftriaxon dan cefotaxim dipakai pada strain yang resisten yang diberikan secara parenteral.

  1. Typoid uncomplicated = rawat jalan

    1. Pilihan pertama adalah cloramfenicol dan amoksisilin, sementara alternative adalah ciprofloxacin.

    2. Cloramfenikol : 50 – 75 mg/kg BB/ hari dengan 4 dosis terbagi selama 14 - 21 hari.

    3. Amoxicillin : 75 – 100mg/kg BB/hari dengan 4 dosis terbagi selama 14 hari.

    4. Ciprofloxacin : 15 mg/kg BB/hari selama 5-7 hari.


  2. Typoid berat = rawat inap


    1. Pilihan pertama adalah ampicillin, ceftriaxon, atau cefotaxim.

    2. Ampicillin : 100 – 200 mg /kg BB/hari terbagi 4 dosis, selama 14 hari.

    3. Ceftriaxone : 60-100 mg/kg BB/hari terbagi 2 dosis, selama 10-14 hari.

    4. Cefotaxim : 80-150 mg/kg BB /hari terbagi 3 dosis, selama 10-14 hari.

    Ciprofloxacin atau golongan fluoroquinolon lainnya sebenarnya efektif namun belum disetujui pemakaiannya secara luas pada anak


Komplikasi

  1. Komplikasi yang paling serius adalah perdarahan saluran cerna dan perforasi. Biasanya muncul pada 2 atau 3 minggu setelah infeksi. Lokasi perforasi biasanya pada terminal ileum atau sekum. Gambaran klinis sulit dibedakan dengan akut apendisitis, gambaran foto polos abdomen menunjukkan udara bebas pada ruang peritoneal.

  2. Bacterial pneumonia

  3. Meningitis

  4. Septic arthritis

  5. Abscess

  6. osteomyelitis


Prognosis

Prognosis baik bila diagnosa cepat ditegakkan dan pemberian antibiotic yang sesuai. Faktor lainnya adalah keadaan umum dan nutrisi yang baik, dan tidak adanya komplikasi. Bila tanpa komplikasi, maka penyembuhan secara bertahap terjadi dalam 2-4 minggu. Pada anak dengan keadaan malnutrisi dan terinfeksi dengan strain multidrug resisten, maka prognosisnya menjadi jelek. Begitu juga bila disertai komplikasi seperti meningitis.

Referensi

  • Nelson Textbook of Pediatric edt 18.

  • Current Pediatric Diagnosis & Treatment 16th Ed: William W. Hay Jr, et al By McGraw-Hill Education - Europe 2002

  • Principles and Practice of Pediatric Infectious Diseases 2nd Edition (October 2002): by Sarah S. Long (Editor), Larry K. Pickering (Editor), Charles G. Prober (Editor) By Churchill Livingstone

Kamis, 01 April 2010

VARICELLA


Definisi

Infeksi akut primer oleh virus varisela zoster yang menyerang kulit & mukosa, disertai dgn gejala konstitusi, kelainan kulit khas – erupsi vesikel terutama di bagian sentral tubuh. Sinonim Varicella ; “Chicken Pox”

Penyebab

Virus Varisela – Zoster (=Virus DNA ; golongan Herpes Virus)

Epidemiologi

Distribusi virus varisella bersifat global (kosmopolit). Varisella merupakan manifestasi dari infeksi primer virus varisella zoster, yang sangat menular. Sekitar 96 % orang yang terpapar virus ini akan berkembang menjadi penyakit. Sekitar 90% infeksi primer terjadi pada anak-anak di bawah 10 tahun. Kurang dari 5 % terjadi pada remaja dewasa (>15 tahun). Tidak ada perbedaan ras. Namun sepertinya prevalensi infeksi primer lebih rendah di daerah tropis dan subtropik dibandingkan dengan Eropa dan Amerika utara.

KLIK DISINI UNTUK MENDAPATKAN LINK DOWNLOAD GRATIS (DOC), (PDF)


Patogenesis

Virus masuk melalui mukosa traktus respiratorius bagian atas atau melalui kontak langsung dengan lesi kulit pasien varisella. Kemudian virus mengalami multiplikasi awal di regional lymph nodes (viremia primer). Kemudian virus akan dimakan oleh sel-sel sistem retikuloendotelial. Disini terjadi replikasi virus lebih banyak lagi (viremia sekunder) dan hal ini terjadi dalam waktu 2 minggu setelah infeksi. Hal ini menyebabkan demam dan malese. Dan dalam waktu 24-72 jam virus menyebar ke kutaneus, dimana akan menginduksi pembentukan vesikel. Ujung saraf sensorik pada epitelium juga terinfeksi. Dari sini virus ini akan bermigrasi ke ganglia sensorik dan akan berdiam sampai infeksi latent. Bila terjadi infeksi latent, maka virus ini akan aktif kembali.


Gambaran klinis


Masa inkubasi varisella berkisar antara 10-20 hari dengan kisaran rata-rata 2 minggu. Gejala klinis dimulai dengan gejala prodormal, yakni demam yang tidak terlalu tinggi, malese, dan nyeri kepala, kemudian disusul timbulnya erupsi kulit berupa papul eritematosa yang dalam beberapa jam berubah menjadi vesikel. Bentuk vesikel ini khas berupa tetesan embun (tear drops). Vesikel akan berubah menjadi pustul dan kemudian menjadi krusta. Sementara proses ini berlangsung, timbul lagi vesikel-vesikel yang baru sehingga menimbulkan gambaran polimorfi.

Penyebaran terutama di daerah badan dan kemudian menyebar secara sentrifugal ke muka dan ekstremitas, serta dapat menyerang selaput lendir mata, mulut dan saluran nafas bagian atas. Penyakit ini biasanya disertai rasa gatal.

Laboratorium

Laboratorium merupakan pembantu diagnosis. Dapat dilakukan percobaan Tzanck dengan cara membuat sediaan hapus yang diwarnai dengan Giemsa. Bahan diambil dari kerokan dasar vesikel dan akan didapati sel datia berinti banyak.


Diagnosis Banding

• Varisella
• variola


Diagnosis

Diagnosa ditegakkan berdasarkan gambaran klinis dengan bentuk rash yang karakteristik (fluorosensi yang sifatnya papulo vesikuler yang multiforme dan proses penjalarannya sentrifugal) dan dibantu oleh riwayat penyakit dan laboratorium


Penatalaksanaan



Pengobatan bersifat simtomatis, istirahat / tirah baring, jaga kebersihan diri.

Non farmakologis
Jaga kebersihan diri, kuku dipotong, anak jangan dibiarkan menggaruk ruam, mandi dianjurkan disamping dapat mengurangi rasa gatal. Mandi dengan menggunakan air dingin atau hangat, jangan berendam terlalu lama. Lebih baik hindari mandi pada saat anak demam. Bila anak selesai mandi, jangan menggosok badan dengan handuk, lebih baik menekan dengan lembut.



Farmakologis

  1. Bila demam, dapat diberikan antipiretik.
    Obat pilihan adalah parasetamol. Hindari pemberian aspirin karena dapat menimbulkan sindrom Reye. Ibuprofen juga dikontraindikasikan karena dapat menimbulkan fasciitis necrotizing.


  2. Bila gatal, dapat diberikan antipruritus.
    Topical dapat diberikan bedak atau losio antigatal (bedak salisil 1% atau kalamin). Usahakan agar vesikel tidak pecah. Oral antihistamin juga dapat dipakai untuk mengurangi rasa gatal,seperti Diphenhydramine (5 mg/kg/hari), hydroxyzine (2 mg/kg/hari) atau antihistamin lainnya.


  3. Antiboitik bila diperlukan :
    Antibiotik sistemik atau topical mungkin diperlukan bila terjadi infeksi sekunder. Infeksi bakteri superficial seperti impetigo, selulitis dan adenitis dapat diterapi dengan antibiotic oral seperti amoksisilin 25-50 mg/kgBB/hari atau eritromisin 40 mg/kgBB/hari. Anak-anak dengan infeksi bakteri yang lebih dalam dapat diterapi dengan antibiotic intravena seperti Penisilin prokain 50.000 IU/kgBB/hari.


  4. Antiviral, bila diperlukan :
    Pemberian asiklovir pada anak-anak, remaja, dan dewasa dapat diterima oleh karena profil keamanan dan efikasinya pada varisela. Dosis asiklovir 20 mg/kgBB/dosis (maksimal 800 mg/dosis) yang diberikan 4 dosis perhari selama 5 hari. Pada penelitian, pemberian asiklovir peroral mengurangi gejala varisella pada anak, remaja, dan dewasa sehat (Immunocompetent) bila diberikan dalam 24 jam setelah kemunculan ruam kulit pertama. Dalam penelitian tersebut terbukti asiklovir mengurangi gejala demam, gatal, jumlah ruam kulit yang terbentuk dan durasi ruam kulit. Indikasi pemberian memang belum disepakati, namun direkomendasikan pada pasien bayi kurang dari 6 bulan, remaja (> 12 tahun), anak-anak yang diterapi dengan steroid oral/inhalasi, terapi jangka panjang aspirin, pasien dengan kronik kutaneous (mis., dermatitis atopic) atau penyakit paru (mis., fibrosis sistik), dan pasien dengan gejala demam di atas 40C dan jumlah ruam kulit yang banyak pada hari pertama erupsi. Efikasi pemberian asiklovir > 72 jam setelah ruam masih meragukan. Asiklovir terapi tidak menginduksi imunitas.
    Pemberian asiklovir intravena diindikasikan pada pasien varisella berat yang immunocompromised (bahkan setelah 72 jam). Asiklovir juga dapat dipakai pada ibu hamil. Setiap pasien dengan gejala “disseminated VZV” termasuk pneumonia, hepatitis berat, trombositopenia, atau ensefalitis juga harus mendapatkan terapi intravena asiklovir. Dosis asiklovir intravena adalah 500 mg/m2 setiap 8 jam diberikan dalam 72 jam. Terapi dilanjutkan selama 7 hari atau sampai tidak dijumpai lesi baru selama 48 jam.



Komplikasi

• Ensefalitis
• Pneumonia
• Glomerulo-nefritis
• Karditis
• Hepatitis
• Keratitis & Vesicular Conjunctivitis
• Orchitis
• Perdarahan g mukosa
• Ibu hamil trimester ketiga -> Kelainan kongenital

Prognosis

  • Baik, kecuali penderita gangguan imunitas (leukemia, limfoma, AIDS) atau infeksi sekuder.

  • Dengan perawatan baik dan teliti g jaringan parut minimal


Referensi

  • Ilmu Penyakit Kulit. Prof. Dr. Marwali Harahap. 1998. Hipocrates.

  • Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Prof. Dr.dr. Adhi Djuanda Edisi keempat 2005. FKUI

  • Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas 2007

  • Nelson Textbook of Pediatric. Ed 18.

  • Tropical Dermatology Vademecum LANDES BIOSCIENCE Georgetown, Texas

  • Pediatric Primary Care: Ill-Child Care (February 15, 2001): By Raymond C., Md. Baker (Editor) By Lippincott Williams & Wilkins Publishers

  • Principles and Practice of Pediatric Infectious Diseases 2nd Edition (October 2002): by Sarah S. Long (Editor), Larry K. Pickering (Editor), Charles G. Prober (Editor) By Churchill Livingstone

  • Textbook of Pediatric Emergency Medicine 4th edition (January 15, 2000): by Gary R. Fleisher (Editor), Stephen Ludwig (Editor), Silverman, Fred M. Henretig By Lippincott, Williams & Wilkins

  • Current Pediatric Diagnosis & Treatment 16th Ed: William W. Hay Jr, et al By McGraw-Hill Education - Europe 2002

  • http://www.faqs.org/health/topics/56/Chickenpox.html

  • http://skindisease.suite101.com/article.cfm/chickenpox_frequently_asked_questions


Senin, 15 Maret 2010

ASKARIASIS

DEFINISI:

Askariasis atau infeksi cacing gelang adalah penyakit yang disebabkan oleh Ascaris lumbricoides. Askariasis adalah penyakit kedua terbanyak yang disebabkan oleh parasit.

ETIOLOGI

Askariasis disebabkan oleh nematode Ascaris lumbricoides. Cacing dewasa dapat hidup dalam lumen usus halus 10-24 bulan. Seekor cacing betina mampu menghasilkan 200.000 telur /hari.


KLINIS

  • Infeksi cacing gelang di usus besar gejalanya tidak jelas. Pada infeksi massif dapat terjadi gangguan saluran cerna yang serius antara lain obstruksi total saluran cerna. Cacing gelang dapat bermigrasi ke organ tubuh lainnya misalnya saluran empedu dan menyumbat lumen sehingga berakibat fatal.

  • Telur cacing menetas di usus menjadi larva yang kemudian menembus dinding usus, masuk ke aliran darah lalu ke paru dan menimbulkan gejala seperti batuk, bersin, demam, eosinofilia, dan pneumonitis askaris. Larva selanjutnya masuk ke bronkus dan trakea lalu dibatukkan dan tertelan kembali masuk ke dalam usus dan menjadi cacing dewasa di usus dalam waktu 2 bulan.

  • Cacing dewasa di usus akan menyebabkan gejala khas saluran cerna seperti tidak napsu makan, mual, muntah, , dan .

  • Pada infeksi berat, terutama pada anak dapat terjadi malabsorbsi sehingga memperberat keadaan malnutrisi. Sering kali infeksi ini baru diketahui setelah cacing keluar spontan bersama tinja atau dimuntahkan.

  • Bila cacing dalam jumlah besar menggumpal dalam usus dapat terjadi obstruksi usus (ileus), yang merupakan kedaruratan dan penderita perlu dirujuk ke rumah sakit.



PEMERIKSAAN LABORATORIUM :

Pemeriksaan laboratorium merupakan diagnosa pasti dari askariasis. Diagnosa askariasis ditegakkan dengan pemeriksaan feses pasien dimana dijumpai telur cacing askaris. Setiap satu ekor cacing askaris mampu memproduksi jumlah telur yang banyak, sehingga biasanya pada pemeriksaan pertama bisa langsung ditemui.

Saat cacing bermigrasi masuk ke paru biasanya berhubungan dengan eosinophilia dan ditemui gambaran infitrat pada foto dada. Bahkan pada kasus obstruksi tidak jarang diperlukan foto polos abdomen, USG atau pemeriksaan lainnya.


DIAGNOSA

Diagnosis askariasis ditegakkan dengan menemukan Ascaris dewasa atau telur Ascaris pada pemeriksaan tinja.

PENATALAKSANAAN


  • Pirantel pamoat 10 mg/kgBB dosis tunggal (maksimal 1 gram)

  • Mebendazol 500 mg dosis tunggal atau 100 mg 2 x sehari selama tiga hari berturut-turut (untuk semua umur)

  • Albendazol 400 mg dosis tunggal oral (untuk semua umur), tetapi tidak boleh digunakan selama hamil.
  • Piperazin citrate 150 mg/kg dosis awal, diikuti dengan 6 dosis 65 mg/kg setiap 12 jam.

  • Pada kasus obstruksi partial, beberapa ahli menyarankan terapi alternative dengan Piperazine citrate, yang menyebabkan neuromuscular paralisis (melumpuhkan) cacing dan ekspulsi dari cacing. Biasanya tersedia dalam sirup dan diberikan melalui NGT. Namun perlu diingat Piperazine dan Pyrantel pamoat bekerja saling berlawanan (antagonist) dan jangan diberikan bersamaan.

  • Untuk kasus obstruksi mungkin diperlukan rawat inap. Operasi laparotomy mungkin diperlukan untuk kasus obstruksi yang berat.



PENCEGAHAN

  • Pengobatan masal 6 bulan sekali di daerah endemik atau di daerah yang rawan askariasis.

  • Penyuluhan kesehatan tentang sanitasi yang baik, hygiene keluarga dan hygiene pribadi seperti:

    • Tidak menggunakan tinja sebagai pupuk tanaman.

    • Sebelum melakukan persiapan makanan dan hendak makan, tangan dicuci terlebih dahulu dengan menggunakan sabun.

    • Sayuran segar (mentah) yang akan dimakan sebagai lalapan, harus dicuci bersih dan disiram lagi dengan air hangat karena telur cacing Ascaris dapat hidup dalam tanah selama bertahun-tahun.

    • Buang air besar di jamban, tidak di kali atau di kebun.


Bila pasien menderita beberapa spesies cacing, askariasis harus diterapi lebih dahulu dengan pirantel pamoat.


REFERENSI


  • Pedoman Pengobatan Dasar di Puskesmas 2007. Dinas Keseharan R.I.

  • Nelson Textbook of Pediatric. Ed 18.

  • Principles and Practice of Pediatric Infectious Diseases 2nd Edition (October 2002): by Sarah S. Long (Editor), Larry K. Pickering (Editor), Charles G. Prober (Editor) By Churchill Livingstone

  • Oski's Pediatrics: Principles and Practice, 3rd Edition (June 1999): By Julia A. McMillan (Editor), Catherine D. Deangelis (Editor), Ralph D. Feigin (Editor), Joesph Warshaw By Lippincott Williams & Wilkins Publishers.

  • Krugman's Infectious Diseases of Children 11th edition (September 18, 2003) by Anne Gershon (Editor), Peter Hotez (Editor), Samuel Katz (Editor) By Mosby

  • Current Pediatric Diagnosis & Treatment, 15th Ed.


Photobucket