Asma merupakan penyakit inflamasi kronik saluran nafas yang berhubungan dengan hiperresponsif saluran nafas yang menyebabkan episode berulang wheezing, sesak nafas, dada terasa sesak, dan batuk yang bersifat reversible secara spontan atau dengan terapi.
Asma berat, walaupun sulit untuk didefenisikan, termasuk semua kasus penyakit yang sulit diberantas atau resistant terhadap terapi yang menyebabkan peningkatan resiko mortalitas dan morbiditas. Penyempitan saluran nafas yang menyebabkan gangguan ventilasi perfusi, hiperinflasi paru, dan peningkatan kerja pernafasan yang bisa menyebabkan otot pernafasan menjadi lelah dan gagal pernafasan yang mengancam.
Status asmatikus didefenisikan sebagai asma akut berat yang ditandai dengan serangan serius asma yang beresiko berkembang menjadi gagal nafas.
Klik disini untuk mendapatkan link download gratis dokumen (PDF), (DOC)
Penyebab
Menurut Global Strategyy For Asthma Management And Prevention, ada dua faktor yang menginfluens resiko asma, yang pertama adalah faktor yang menyebakan berkembangnya resiko asma dan faktor yang memicu (trigger) asma :
Patogenesa
Mekanisme asma melibatkan berbagai sel inflamasi dan mediator inflamasi yang menghasilkan perubahan patofisiologi dari saluran nafas berupa penyempitan saluran nafas. Beberapa sel inflamasi yang terlibat antara lain sel mast, eosinofil, limfosit-T, sel dendritik, makrofag, dan neutrofil. Struktur sel dari saluran nafas juga memproduksi mediator inflamasi seperti sel epithelial saluran nafas, sel otot polos saluran nafas, sel endothelial, fibroblast dan myofibroblast dan saraf . Berbagai mediator kunci asma antara lain kemokin, sisteinil leukotrien, sitokin, histamine, nitric oxide, dan prostaglandin D¬2.
Gambaran Klinis
Terdapatnya tanda-tanda atau gejala berikut ini harus dipikirkan kemungkinan besar asma.
Laboratorium
Diagnosa Banding
Diagnosa banding yang dapat dipikirkan adalah :
Diagnosa
Diagnosa ditegakkan berdasarkan riwayat penyakit, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium.
Penatalaksanaan asma akut berat (status asmatikus) pada anak
Oksigen
Oksigen yang diberikan bertujuan untuk mencapai saturasi oksigen yang adekuat pada pasien asma. Tidak ada studi yang mengevaluasi berapa nilai saturasi yang adekuat pada serangan asma akut, namun guidelines terbaru merekomendasikan saturasi oksigen harus dijaga di atas 95%. Oksigen dapat diberikan melalui masker atau nasal kanul, dan jumlahnya harus disesuaikan dengan melihat saturasi oksigen.
Cairan
Serangan asma akut pada anak biasanya disertai intake cairan yang kurang dan muntah yang oleh sebab itu selalu disertai dengan dehidrasi. Dehidrasi bisa meningkatkan asidosis metabolic, dan terapi cairan bisa dilakukan melalui pemberian oral (lebih disukai) atau melalui intravena. Kelebihan cairan yang akan menyebabkan edema pulmonum harus dihindari. Selain itu juga harus diperhatikan keseimbangan elektrolit.
Inhalasi β2-agonis
Inhalasi β2 agonists merupakan obat lini pertama pada penanganan asma akut. Inhalasi β2 agonists dapat diberikan secara inhalasi nebulizer atau melalui Metered Dose Inhaler (MDI).
Efek samping dari ß2 agonis termasuk tremor dari otot – otot skeletal, sakit kepala, agitasi dan palpitasi, takikardi. Bisa terjadi imbalans dari ventilasi dan perfusi oleh karena adanya peningkatan perfusi ( sirkulasi ) yang melewati paru–paru yang masih under-ventilated, sehingga terjadi hipoksemia ; juga bisa terjadi hipokalemia.
Inhalasi antikolinergik
Guidelines terbaru asma pada anak merekomendasikan inhalasi ipratropium bromide sebagai terapi tambahan β2-agonis. Kombinasi antara nebulasi ß2 agonis dan anti kolinergik ( ipratropium bromide ) akan memberi efek bronkodilatasi yang lebih baik dari pada masing–masing obat sendiri–sendiri terutama pada satu jam pertama serangan. Ipratropium bromida dapat diberikan secara inhalasi nebulizer atau melalui Metered Dose Inhaler (MDI).
Sebaiknya diberikan setelah 2 kali nebulasi ß2 agonis selang 20 menit tidak ada atau kurang respon. Kombinasi ini dianjurkan diberikan lebih dulu sebelum diberikan methyl xanthin. Efek samping kekeringan di mulut (minimal) atau rasa tidak enak di mulut, secara umum tidak efek samping yang berarti.
Kortikosteroid
Peningkatan respon inflamasi merupakan bagian utama dari patofisiologi asma. Guidelines merekomendasikan anak dengan asma moderat atau berat harus diberikan sistemik steroid sebagai terapi awal. Pemberian kortikosteroid bisa mencegah progresifitas dari asma, mencegah MRS, mengurangi simtom dan memperbaiki fungsi paru juga memperbaiki respon bronkodilatasi dari ß2 agonis. Pemberian glukokortikosteroid sistemik paling tidak perlu waktu 4 jam untuk mencapai perbaikan klinis dan efek maksimum diperlukan waktu 12 – 24 jam. Walaupun tidak dijumpai perbedaan efektivitas klinis antara oral dan intravena, namun pemberian intravena lebih disukai karena keadaan pasien yang sulit menelan.
Pada kasus–kasus asma yang MRS diperlukan pemberian kortikosteroid secara intravena (IV). Methyl prednisolon merupakan pilihan utama oleh karena penetrasi kejaringan paru yang lebih baik, efek anti inflamasi yang lebih besar juga efek mineralokortikoid yang minimal. Dosis yang dianjurkan : methyl prednisolon 1 mg/kg BB IV tiap–tiap 4 – 6 jam. Hidro kortisone 4 mg/kg BB IV tiap–tiap 4 – 6 jam. Dexa metasone 0,5 - 1 mg/kg BB bolus dilanjutkan 1 mg/kg BB/hari diberikan tiap–tiap 6 – 8 jam. Bila keadaan akut sudah reda pemberian kortikosteroid dilanjutkan peroral. Dosis yang direkomendasikan adalah 1-2 mg/kg prednisone peroral diberikan 2 – 3 kali sehari selama 3 – 5 hari atau Dexametason oral 0,6 mg/kg BB/hari diberikan 2 kali sehari
Pemakaian steroid dengan inhalasi tidak bermanfaat untuk serangan asma, jadi tidak dianjurkan. Ada yang berpendapat steroid nebulasi dapat digunakan untuk serangn berat, namun perlu dosis sangat tinggi (1600 mcg), tetapi belum banyak kepustakaan yang mendukung.
Adrenalin (epinefrin)
Pada umumnya tidak lagi di rekomendasikan pada pengobatan serangan asma, kecuali bilamana tidak ada obat–obat ß2 agonis selektif atau pada pasien yang tidak berespon terhadap terapi kontinu ß2 agonis atau pada pasien yang tidak kooperatif (penurunan kesadaran, depresi pernafasan, apnoe, atau koma) . Terutama diberikan bila ada reaksi anafilaksis atau angioedema. Epinefrin dapat diberikan secara subkutan, intravena, inhalasi aerosol atau melalui ETT .
Epinefrin dapat diberikan subkutan dengan dosis 0,01 mg/kgBB (1:1000) maksimum 0,3-0,5 mg yang dapat diberikan setiap 20 menit maksimal 3 kali pemberian.Pemberian infuse epinefrin sebaiknya dilakukan oleh ahli. Dosis 0,02 mg/menit.
Adrenalin subkutan mempunyai onset 5–15 menit, efek puncak 30 – 120 menit, durasi efek 2 – 3 jam. Efek samping oleh karena selain stimulasi reseptor adrenergik ß2 juga terjadi stimulasi reseptor ß1 dan reseptor α, bisa didapatkan sakit kepala, gelisah, palpitasi, takiaritmia, tremor, hipertensi. Pemberian aerosol ephineprine efeknya kurang menguntungkan karena durasi efek bronkodilatatasinya hanya 1 – 1,5 jam dan efek samping terutama pada jantung dan CNS.
Aminophylline
Aminofilin merupakan terapi lini kedua yang memiliki efek bronkodilator yang lemah, memiliki indeks teraupetik sempit, sehingga sering menimbulkan efek samping. Aminofilin memiliki efek bronkodilator lemah, penigkatan kontraktilitas diafragma, diuresis, dan efek antiinflamasi. Walaupun berdasarkan studi terbaru pemberian aminofilin bersamaan dengan terapi konvensional (β2 ditambah steroid) tidak memberikan perbaikan yang signifikan atau bahkan pada beberapa guidelines tidak menganjurkan. Namun biasanya jika terapi lini pertama kurang tidak adekuat atau gagal, dapat menambahkan pemberian aminofilin. Cara pemberiannya adalah pertama dengan pemberian bolus loading dose 3-6 mg/kg dilarutkan dalam 20 cc D5% atau NaCl 0,9% yang diberikan perlahan-lahan dalam 20-30 menit. Selanjutnya aminofilin dosis rumatan dosis infusion 0,2-0,9 mg/kg/hari. Serum teofilin harus dipantau dan monitor ECG harus dilakukan.
Magnesium Sulfate
Akhir – akhir ini pemberian magnesium sulfas dianjurkan sebagai terapi sistemik pada status asmatikus. Jadi dapat dipertimbangkan pada perawatan di ICU pada anak – anak serangan asma berat, terutama yang tidak ada / kurang respon dengan kortikosteroid sistemik dan nebulasi berulang dengan ß2 agonis dan aminophilin. Beberapa teori yang menerangkan efek bronkodilatornya melalui perannya di dalam regulasi komplek adenyl cyclase dari ß2 reseptor, suatu cofactor dalam system enzim yang mengatur keluar masuknya Na dan K via membran sel. Juga sebagai “calsium channel blocker“ efek sedatif, mengurangi pelepasan asetil kolin pada ujung – ujung saraf juga stabilisasi sel mast. Dosis 25 – 50 mg/kg BB/hari diberikan secara infuse lambat. Kadar magnesium sebaiknya di cek setiap 6 jam, infus magnesium harus ditritasi menjaga kadar antara 3,5 – 4,5 meq/dl. Efek samping : kelemahan otot, deep tendon reflex yang menurun, hipotensi, takikardi, mual, muntah–muntah, flushing dari kulit disritmia jantung.
Nebulasi salbutamol dengan magnesium sulfas isotonic pada suatu laporan pendahuluan menunjukkan hasil yang lebih baik dari pada salbutamol dengan normal saline, namun penggunaan magnesium sulfas isotonic belum bisa di rekomendasikan untuk dipakai secara rutin sampai ada penelitian lebih lanjut
Referensi
Minggu, 14 Februari 2010
Status Asmaticus
Defenisi
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar